Woensdag 01 Mei 2013

KISAH TELADAN IBNU HAJAR ( ANAK BATU )



KISAH TELADAN
MAN JADDA WAJADA ( من جد وجد )
IBNU HAJAR AL AST QOLANI ( Anak Batu )
Ia adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, ia tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan iffa ( menjaga diri dari dosa ) dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Ibnu hajar Al-Asqalani itulah namanya. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.
Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Itu berawal dari kisah beliau dengan batu yang ia jadikan sebagai awal motivasinya dan keinginannya yang kuat untuk belajar. Kisah itu bermula ketika beliau masih berumur 5 tahun dan sedang mengenyam pendidikan disalah satu madrasah, dengan dalih menuntut ilmu serta menjadi seorang ulama  seperti apa yang dicita-citakan oleh orangtuanya. Di madrasahnya ia terkenal sebagai murid yang rajin namun ia selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.
Dan pada akhirnya, akibat rasa frustasi yang dideranya, beliaupun datang untuk menemui gurunya yang kala itu menjadi pengasuh beliau selama menyantri di madrasah tesebut, kemudian meminta izin kepada gurunya pergi meninggalkan madrasahnya akan tetapi menurut sumber refrensi lainnya ia pergi meninggalkan tanpa sepengetahuan gurunya, ia pun menyusuri jalan tanpa tahu arah serta tujuan yang akan ia kunjungi, di tengah perjalanan hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu yang keras, ia pun terkejut, dengan berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air yang terus mengenai batu itu hingga akhirnya dapat melubainginya . Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus.
Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah terus menerus maka ia akan manjadi lunak,kemudian dalam hati beliau menyimpulkan satu bait klimat yang dapat merubah keadaan beliau seketika itu, “Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar. Sejak saat beliau bertekad dalam hati agar terus berusaha tanpa ada satu pun kata menyerah yang tersirat dalam diri beliau. Kemudian kembalilah,ia ke madrasah yang menjadi tempat ia mencari ilmu.
Dengan tekad yang kuat serta semangat yang menggebu-gebu, ia menghadap kembali  menemui gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwanya, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di madrasah itu. Hari-harinya kemudian diisi dengan terus membaca, menghafal serta mentelaah kitab-kitab, hingga pada akhirnya ditangan gurunya yang bernama Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al Muqri’, seorang ahli fakih,kepada beliau  ia mampu mentuntaskan hafalannya, genap pada umurnya yang ke sembilan tahun. Karena kecerdasannya, pada usianya yang ke 12 tahun ia di tunjuk menjadi seorang imam shalat tarawih di Masjidil Haram, sungguh suatu kepercayaan yang membanggakan baginya.
Saat ketidakupasan dengan apa yang ia dapat dari kegigihannya untuk menuntut ilmu, akhirnya ia pergi untuk melaksanakan rihlah ( perjalanan mencari ilmu ) dari Mekkah menuju Syam, Yaman, Hijaz dan kota ilmu lainnya. Berbekal akan kesungguhannya dalam menuntut ilmu akibatnya ia, dalam usianya yang masih terbilang muda ia diizinkan oleh mayoritas ulama untuk berfatwa dan mengajar. Dari sini orang banyak yang mengenalnya sebagai ‘alim yang kemudian banyak melahirkan ulama-ulama yang terkenal.
BUAH KESABARAN DAN ISTIQOMAH ADALAH KAROMAH ( KEMULYAAN )




Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking